Biografi Pangeran Diponegoro, Anak Selir yang Kobarkan Perang Jawa

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Raden Saleh pada 1857 (kemendikbud.go.id)

Pangeran Diponegoro lahir di Yogyakarta pada Jumat 11 November 1785. Dia lahir dari rahim Raden Ayu (RA) Mangkorowati yang merupakan selir Sultan Hamengkubuwono III. Dia ialah pahlawan nasional dari tanah Jawa yang gagah memimpin atau perang Jawa melawan penjajahan Belanda pada 1825-1830 hingga dikenal sebagai Perang Diponegoro.

Bagaimana perjuangan Diponegoro yang tidak pernah gentar dengan pemerintahan Belanda itu? Berikut kisahnya:

1. Diponegoro menolak untuk diangkat menjadi Raja

Pangeran Diponegoro di Komik Pahlawan Indonesia oleh Agung Bawantara dkk

Pangeran Diponegoro di Komik Pahlawan Indonesia oleh Agung Bawantara dkk

Sadar bahwa dirinya terlahir dari seorang selir, Diponegoro menolak permintaan Sultan Hamengkubuwono III untuk diangkat menjadi raja. Sebab, di lingkungan bangsawan, putra mahkota yang biasa dinobatkan menjadi raja hanya anak dari permaisuri.

Lagi pula, Diponegoro memang lebih tertarik dengan kehidupan yang merakyat dan keagamaan. Dia pun lebih suka tinggal di Tegalrejo daripada di keraton.

2. Awal mula terjadinya perang Diponegoro

Lukisan Pangeran Diponegoro (Leiden University Libraries)

Lukisan Pangeran Diponegoro (Leiden University Libraries)

Diponegoro memperlihatkan pemberontakan terhadap keraton pada 1822. Saat itu, kepemimpiman berada di tangan Hamengkubuwono V yang saat itu masih berusia tiga tahun. Pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda. Diponegoro menilai bahwa cara tersebut salah. Dia menolak cara perwalian yang dijalankan di keraton.

Belanda kala itu memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Hal itu untuk pembangunan jalan yang diusulkan oleh Patih Danurejo yang menjadi kaki tangan Belanda. Diponegoro yang secara terbuka menentang Belanda pun melakukan penolakan pembangunan jalan itu secara terang-terangan. Rakyat mendukung hal tersebut. Hal inilah yang menjadi awal mula terjadinya perang Diponegoro.

3. Diponegoro membuat barisan perlawanan terhadap Belanda di Gua Selarong

Peta pergerakan pasukan Pangeran Diponegoro di Mataram. (Leiden University Libraries)

Peta pergerakan pasukan Pangeran Diponegoro di Mataram. (Leiden University Libraries)

Menyingkir dari desa Tegalrejo, Diponegoro pun pergi membuat barisan perlawanan terhadap Belanda yang bermarkas di Gua Selarong. Langkah tersebut sesuai dengan nasihat dari pamannya yaitu Pangeran Mangkubumi.

Seperti dikutip dari buku Biografi Pahlawan Kusuma Bangsa karya Ria Listina, semangat perlawanan terhadap penjajahan Belanda yang berkobar dalam diri Diponegoro berpengaruh luas. Teriakan Diponegoro yang menamakan perlawanan ini sebagai perang sabil sangat mengelegar.

Semangat itu sampai pula kepada salah satu tokoh agama Surakarta yang bernama Kyai Maja atau Kyai Mojo dalam pelafalan Jawa, ikut bergabung ke pasukan Gua Selarong. Tentu, keikutsertaan Kyai Maja memberikan pengaruh yang sangat besar. Sebab, sosok Kyai Maja memiliki banyak pengikut dari bagai lapisan masyarakat. Bukan hanya Kyai Maja, perjuangan Diponegoro juga didukung oleh Raden Tumenggung Prawiradigday atau Bupati Gagatan dan Sunan Pakubuwono VI.

4. Taktik licik pemerintahan Belanda untuk menangkap Pangeran Diponegoro

Potret Pangeran Diponegoro. geheugen.delpher.nl

Potret Pangeran Diponegoro. geheugen.delpher.nl

Berbagai cara Belanda lakukan untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan pasukannya. Taktik sayembara pun dilakukan oleh Belanda. Barang siapa yang bisa menangkap atau membunuh Pangeran Diponegoro akan diberikan hadiah sangat besar yaitu 20.000 gulden.

Rakyat yang berada dipihak Diponegoro pun tidak goyah dengan tawaran tersebut. Tidak ada satu pun yang mengungkap keberadaan Diponegoro kala itu. Dinilai tidak berhasil, pada 28 Maret 1830, Belanda mengambil cara licik yaitu, mengundang Diponegoro ke Magelang untuk berunding.

Saat itu, Belanda menjamin apabila tidak ada kesepakatan, maka Diponegoro bisa kembali ke tempatnya yang aman. Dengan pribadi jujur dan berhati bersih, Diponegoro setuju dengan tawaran baik Belanda. Sayang, undangan itu ternyata hanya lah akal busuk Belanda untuk menangkapnya.

5. Pangeran Diponegoro dibuang ke Manado dan meninggal di Makassar

Lukisan Pangeran Diponegoro, memasuki tempat tinggal yang disiapkan untuknya dan pasukannya setelah datang ke Magelang, 8 Maret 1830. (Leiden University Libraries)

Lukisan Pangeran Diponegoro, memasuki tempat tinggal yang disiapkan untuknya dan pasukannya setelah datang ke Magelang, 8 Maret 1830. (Leiden University Libraries)

Setelah Belanda berhasil menangkapnya, pada 20 April 1830, Diponegoro dibuang ke Manado. Tidak sendirian, Diponegoro dibuang bersama dengan Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposoni dan istri, serta para pengikutnya. Diponegoro berlayar dengan kapal Pollux.

Setelah sampai, Diponegoro dan rombongannya langsung ditawan di Benteng Amstrerdam. Selanjutnya, Diponegoro pun kembali dipindahkan oleh Belanda, kali ini ke Makassar. Selama 25 tahun Diponegoro hidup di Benteng Rotterdam, Makassar. Hingga, 8 Januari 1855, Pangeran Diponegoro meninggal dan dimakamkan di kota pengasihan terakhirnya tersebut.

Author: Ashraf Muhammad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *