MAJLIS AL KHIDMAH, KEBUTUHAN JAMAAH, DAN TUNTUNAN ROMO YAI RA TENTANG AKHLAQ DI DALAMNYA

Tulisan Pak Imam Subakti

Semua orang telah sama-sama tahu | bahwa Romo YAI RA adalah sosok yang mencerminkan pribadi manusia yang penuh dengan kemuliaan Akhlaq || Majlis Romo YAI RA juga Majlis yang di dalamnya dipenuhi dengan sifat-sifat Akhlaq yang mulia | Isi yang disampaikan dalam Tausiah/Mauidloh/Pengajian tentu juga merupakan resep tuntunan di dalam menjalani hidup dengan penuh Akhlaq yang utama ||

Mulai dari bagaimana Akhlaq yang utama dalam hidup beragama | Akhlak yang utama dalam hidup berkeluarga | Akhlak yang utama
dalam hidup bersosial – hidup bersama dengan sesama manusia serta makhluk lainnya | hingga Akhlak yang utama dalam hidup berbangsa dan bernegara | dan seterusnya dan seterusnya ||

Semua orang juga telah sama-sama tahu | bahwa jamaah pengikut Romo YAI RA yang hadir dalam setiap Majlis Al Khidmah amatlah beragam | Latar belakangnya beragam | Pandangan, cara dan pola pikirnya beragam | Keluasan wawasan dan kedalaman ilmunya beragam | Tingkat pemahaman diniyyah serta pengalaman ubudiyahnya beragam | hingga perjalanan “roso” kepada Allah-nya pun beragam ||

Kenapa mereka bisa menyatu, duduk bersama dalam satu Majlis? | Karena mereka punya kebutuhan yang sama | Yakni sama sama butuh “sentuhan” Guru || “Sentuhan” yang diharapkan bisa mendorong dan menggerakkan | “Sentuhan” yang mampu membesarkan harapan | “Sentuhan” yang dengan kehalusan dan kelemah-lembutan Akhlaq, mampu menuntun dan menunjukkan “jalan tol”, untuk kembali (“Rojaa”) | “Taqorrub Wal-Wushuul” menuju ke Hadirat IlaaHhi Sub-haanaHh ||

Selain daripada itu? Tidak || Di saat sedang masih di dalam Majlis itu | Jamaah sebenarnyalah tidak sedang membutuhkan untuk diajari hal hal lain selain itu || Dalam hal ini mohon kiranya untuk tidak salah dimengerti | Bukannya mereka merasa telah berilmu dan tidak mau lagi diajari tentang lain lain yang beraneka | yang juga benar dan penting || Bukan itu | Ini hanya soal “momentum” dan kebutuhan | Tegasnya, di moment Majlis itu | diulangi : jamaah tidak sedang membutuhkan omongan atau pembicaraan soal beraneka hal selain yang sedang mereka butuhkan ||

Jamaah Majlis yang beragam ini amatlah butuh DIJAGA perasaannya | Dan Tausiah/Pengajian/Mauidloh yang menjaga perasaan jamaah merupakan bukti atau bentuk nyata dari perilaku AKHLAQ || Ranah Akhlaq adalah ranah di atas ranah hukum benar atau salah | Ranah Akhlaq adalah ranah yang mana telah melampaui itu semua ||

Kenapa Jamaah Majlis butuh dijaga perasaannya? | Sebab sebelum mauidloh | yakni di saat selama mereka mengikuti Dzikir, Maulid dan Manaqib | “roso” di hati mereka telah “dipenuhi” oleh “nuur” melalui Guru || Tidak peduli apakah mereka sendiri mengerti dan menyadari akan hal itu ataukah tidak ||

Sebagian mungkin saja di antara Jamaah juga ada yang mengalami getaran : rindu, cinta, bahagia, haru | juga merasa berdosa, takut, malu, berharap dan memohon, serta lain lain | semuanya haru biru berkecamuk menggejolak di dalam hati mereka karena merasa sedang berhadapan dengan Guru ||

Oleh karena itu | apabila mereka diajak untuk membahas dan memikirkan hal hal lain selain/di luar yang sedang memenuhi isi hatinya tersebut | maka hatinya akan menolak | Bahkan – bisa jadi – akan risih, merasa terganggu | karena di saat itu di hatinya masih sedang menikmati sisa sisa suasana “kemesraan” karena ketertautannya dengan Guru RA | dengan Rasul SAW | bahkan hingga dengan Allah ‘Azza Wajall ||

Itulah sebabnya – barangkali | kenapa Romo YAI RA seringkali mengungkapkan harapannya | dengan Dawuh, yang garis besar isinya menyatakan bahwa | Isi Mauidloh itu jangan macam macam | Bahasannya jangan melantur ke mana mana | Yang penting itu Jamaah dibesarkan hatinya | Dengan diberi kabar gembira tentang fadhilah fadhilah atau keutamaan keutamaan bagi orang yang berdzikir | Keutamaan berkumpul atau duduk bersama di dalam kumpulan orang orang yang berdzikir | atau hal hal lain yang di seputar itu dan tidak keluar dari itu ||

  1. AllaaHhummanfa’naa BiHhii
    Wa Bi BarkatiHhii Wa Bi ‘UluumiHhii
    Fid-Daaroiin. Aamiiin. Al Faatihah … !

 

Author: Ashraf Muhammad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *